Minggu, 31 Agustus 2008

membuat pupuk bukasi dengan em

Bokasi

Bokasi tidak lain adalah pupuk organik yang dapat dibuat sendiri dari campuran beberapa bahan dan difermentasikan (dipeuyeum, B.Sunda = red). Adapun bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membuat bokasi adalah berbagai jenis bahan organik seperti : dedak padi, dedak jagung, dedak gandum,tepung jagung, sekam padi, kulit kacang, amplas kelapa, ampas biji kapas, rumput , serbuk gergaji, sabut dan tempurung kelapa, tepung ikan, tepung tulang, kotoran ternak, sampah dapur, rumput laut, kulit kerang dan lain-lain. Bahan- bahan tersebut diperlakukan dengan efektif mikroorganisme (EM) sebagai mikroba pengaktif (aktivator) sehingga terjadi proses fermentasi.

Bokasi itu sendiri terdiri dari dua jenis yaitu bokasi aerobik dan anaerobik. Bokasi aerobik dapat diproduksi dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat. Sedangkan bokasi anaerobik, energi dan bahan organiknya dapat dipertahankan , namun bila pengelolaannya salah akan menimbulkan keracunan/pencemaran pada tanah. Sebaiknya dalam membuat bokasi digunakan berbagai macam bahan organik agar mendapatkan mikroba yang beragam. Hal ini penting bagi kesuburan tanah. Penambahan arang kayu / arang sekam, zeolite maupun abu kayu juga baik untuk membantu memperbaiki kondisi tanah, disamping bahan tersebut juga sebagai tempat hidup bagi mikroorganisme.



Cara Pembuatan

Langkah pertama yang dilakukan adalah mencampurkan bahan-bahan organik tadi sebanyak 2 – 3 macam. Kemudian kita siapkan larutan EM (saat ini sudah ada beberapa produk EM yang beredar di pasaran) dengan perbandingan larutan EM : molases : air yaitu 1 : 1 : 100. Larutan EM yang telah dibuat tersebut kemudian dituangkan ke dalam campuran bahan organik, diaduk merata sampai terbentuk adonan dengan kandungan air sekitar 40%. Bahan organik yang telah diaduk tadi selanjutnya ditumpuk diatas lantai semen dan ditutup dengan karung goni dan dijaga agar tidak terkena air hujan. Dalam kondisi aerobik, proses fermentasi berlangsung cepat sehingga suhu bokasi akan naik (meningkat). Suhu ideal untuk pembentukan fermentasi tersebut sekitar 34 – 45 o C dan usahakan harus terus dipertahankan. Bila suhunya naik melebihi 50 oC, maka bokasi dibolak-balik agar udara masuk dan suhunya turun. Lama fermentasi bokasi aerobik ini berkisar antara 2 – 4 hari dan bokasi dianggap sudah jadi (siap pakai) bila memberikan bau khas fermentasi dan ditumbuhi jamur putih. Bila berbau busuk, menandakan fermentasi gagal.

Perbedaan pembuatan bokasi aerobik dengan anaerobik adalah adonan yang telah dicampur antara bahan organik dengan larutan campuran EM, molases dan air tersebut dimasukkan ke dalam kantok plastik yang kedap udara, kemudian dimasukkan lagi ke dalam kantong plastik lain untuk mencegah terjadinya peredaran udara. Kantong plastik ditutup rapat untuk mempertahankan kondisi anaerobik, kemudian disimpan di tempat yang tidak terkena matahari langsung. Adapun lama proses fermentasinya lebih lama dibandingkan bokasi aerobik. Bokasi yang sudah jadi yang memberikan bau fermentasi harus segera digunakan. Bila ingin disimpan sebaiknya dikeringkan dahulu diatas lantai semen yang terlindung dari sinar matahari. Adapun beberapa jenis bokasi dengan komposisi bahan dan pemanfaatannya dapat dilihat pada Tabel 1.



Penggunaan/Aplikasi

Aplikasi ME dan pemberian bokasi pada tanah yang kurang subur merupakan langkah yang tepat dalam memulihkan kembali kesuburan tanah terutama di daerah kering. Hal ini disebabkan ME dapat melarutkan unsur hara dari bahan induk yang kelarutannya rendah, mereaksikan logam berat menjadi senyawa untuk proses penghambatan penyerapan logam berat pada akar tanaman, menyediakan molekul organik sederhana sehingga dapat diserap langsung oleh tanaman, memacu pertumbuhan tanaman dengan cara mengeluarkan zat pengatur tumbuh, serta memperbaiki struktur/dekomposisi bahan organik dan sisa (residu) tanaman sehingga mempercepat proses daur ulang unsur hara dalam tanah (Wididana,1995). Aplikasi EM itu sendiri dapat dilakukan pada beberapa kegiatan, diantaranya :

1.Perlakuan Sebelum Penanaman

Bokasi dapat diberikan pada tanaman musiman sebelum tanam dengan cara menyebarkannya ke tanah dengan dosis 2 – 2,5 ton/ ha sekitar 2- 3 minggu sebelum tanam, kemudian disiram dengan EM4 yang diencerkan dengan konsentrasi 0.1 %. Setelah diberikan bokasi dan cairan EM, tanah ditutup mulsa jerami atau rumput kering untuk memelihara kelembaban tanah dan mengurangi gulma. Untuk tanaman tahunan, lubang tanam diisi dengan bokasi sebanyak 10 kg dan dicampur pupuk kandang secukupnya 1 – 2 minggu sebelum tanam.

2.Perlakuan untuk benih

EM dapat pula diaplikasikan pada benih yang akan ditanam yaitu dengan cara merendamnya pada larutan EM 0,1% selama 30 menit untuk melapisi benih. Adapun tujuan dari pelapisan dengan EM itu sendiri adalah untuk proses Inokulasi benih.

3. Perlakuan Sesudah Penanaman

Bibit yang telah dipindah serta tumbuh akarnya dilakukan penyiraman dengan larutan ME 0.1 % secara merata. Adapun dosis jumlah larutan yang digunakan dilakukan dengan perbandingan tepat sesuai dengan jumlah air yang diperlukan untuk menggenangi lahan. Pada tanaman tahunan, setelah bibit ditanam yang telah ditutup mulsa jerami/daun-daunan kering dapat disiram dengan EM 0.1 %.

4. Perlakuan Selama Masa Pertumbuhan

Larutan EM 0.1% disiramkan atau disemprotkan ke tanah dan tanaman setiap minggu 1-2 kali selama satu bulan. Kebutuhan untuk setiap kali penyiraman kurang lebih 5 – 10 liter/Ha. Penambahan perlakuan EM tidak akan menimbulkan masalah, namun perlu diperhitungkan biayanya. Biasanya pada masa pertumbuhan frekuensi pemberian EM lebih sering, sedangkan bila pertumbuhan tanaman sudah baik, maka waktu (interval) pemberian EM lebih diperpanjang. Untuk menjaga agar tidak terjadi keracunan yang ditandai dengan bercak kuning pada daun sebagai akibat keasaman larutan tersebut sebaiknya pengenceran EM tidak kurang dari 1 : 500. Perlakuan EM yang dilakukan bersama-sama dengan pestisida maupun pupuk anorganik sangat tidak dianjurkan, karena akan mengurangi efektivitas dan pengaruh positif dari EM. Sebaiknya pernyemprotan EM dilakukan setelah aplikasi pestisida/pupuk anorganik dilakukan.

5.Perlakuan Setelah Panen

Setelah dilakukan pemanenan pada tanaman kita, maka bagian tanaman yang tidak diperlukan (biomas) dikembalikan ke dalam tanah. Larutan EM 0.1 % disiramkan ke biomas dan dicampur dengan bokasi, kemudian ditutup dengan mulsa jerami atau bahan lainnya. Perlakuan ini sangat dianjurkan karena dapat menambah bahan organik tanah, memperbaiki struktur tanah, mencegah terjadinya erosi, memperkaya mikroorganisme menguntungkan, serta memper-tahankan kondisi tanah yang cocok untuk kehidupan ME, menekan pertumbuhan gulma dan menambah unsur hara terutama kalium.

Hasil Uji Coba Penggunaan EM dan Bokasi pada Usahatani

Pengujian di lapangan dengan menggunakan EM dan Bokasi telah dilakukan di beberapa tempat. Pada tanaman kentang dan bawang merah di daerah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur oleh BPTP Karangploso Malang. Pada buncis dan kacang hijau di Srilangka dan pada tanaman jagung di wilayah China bagian Timur. Pada tanaman Jeruk varietas Lemon yang dilakukan oleh Wibisono et. al. (1996). Seluruh penelitian menunjukkan adanya peningkatan produksi baik secara morfologis tanaman maupun produksinya.

Kondisi lahan yang telah
disiram larutan ME


Hasil percobaan yang dilakukan pada tanaman kentang dan bawang merah di pacet yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh EM dan bokasi serta efektifitasnya dalam mengurangi kerusakan oleh gangguan OPT menunjukkan :

Penggunaan EM dan bokasi dapat memacu pertumbuhan tanaman kentang dan bawang putih selama fase autotropi mulai umur 1 – 5 minggu, produksi umbi kentang meningkat 35% dan bawang putih 26% pada perlakuan EM dan bokasi. Pendapatan bersih usahatani kentang dengan perlakuan EM dan bokasi dapat mencapai 1.95 kali lipat dibandingkan tanpa menggunakan EM dan bokasi serta 3.25 kali lipat dari cara petani.

Hasil percobaan yang dilakukan di Srilangka pada tanaman buncis (Phasealus vulgaris) dan kacang hijau menunjukkan bahwa pemberian EM yang diberikan bersama-sama dengan pupuk organik dapat meningkatkan meningkatkan efektifitas dan manfaat EM dalam tanah. Disamping itu untuk memperoleh tingkat produksi yang maksimal, diperlukan pemberian pupuk anorganik, khususnya pada tanah yang tingkat kesuburannya rendah.

Sedangkan hasil percobaan penggunaan bokasi dan EM yang dilakukan di China pada tanaman jagung dan gandum menunjukkan adanya peningkatan jagung dan gandum. Dan terakhir percobaan EM pada tanaman jeruk Lemon menunjukkan bahwa penggunaan EM 4 secara nyata dapat meningkatkan jumlah akar, panjang akar, berat basah dan berat kering akar.

(Ir. Ruly Hardianto, Petunjuk Teknis Rakitan Tekhnologi BPTP Karangploso)


halaman [ 1 ] [ 2 ]

Tidak ada komentar: